Pegalaman Seks Yang Sangat Menyenangkan Di Saat Di Saat Masa Bersekolah
Pegalaman Seks Yang Sangat Menyenangkan Di Saat Di Saat Masa Bersekolah
SEKS BEBAS - Selamat datang di situs
kami, Kisah ini berawal dari keberanian manta muridku, Saher. Tampaknya
sejak SMA dia sudah sering mengintip dan memperhatikan tubuhku yang molek.
Sebenernya cerita dewasa ini tak layak diceritakan. Tapi, apa mau dikata
perbuatan itu telah kami lakukan, dan kenikmatan itu ingin kami bagikan disini.,,
“Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.
“Aku hampir keluar!” Saher bergumam. Gerakannya langsung
cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku
pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Saher. Kedua
tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.
“Terus, Sayang…,
teruuusss…!”desahku, “Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama
Ibu!” Saher
“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.
“Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”
“Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!,, Namaku Diana, tinggi 160
“Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”
“Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!,, Namaku Diana, tinggi 160
sentimeter, berat 56 kilogram,
lingkar pinggang 65 sentimeter. Secara keseluruhan, sosokku kencang, garis
tubuhku tampak bila mengenakan pakaian yang ketat terutama pakaian senam. Aku
adalah Ibu dari dua anak berusia 44 tahun dan bekerja sebagai seorang guru
disebuah SLTA di kota S
Kata orang tahi lalat di
daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku mirip Minati Atmanegara
yang tetap kencang di usia yang semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya,
tetapi aku memiliki payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan
dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat dengan olahraga yang
teratur.Kisah ini berawal dari keberanian manta muridku, Saher. Tampaknya sejak
SMA dia sudah sering mengintip dan memperhatikan tubuhku yang molek. Sebenernya
cerita dewasa ini tak layak diceritakan. Tapi, apa mau dikata perbuatan itu
telah kami lakukan, dan kenikmatan itu ingin kami bagikan disini.
Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.
“Aku hampir keluar!” Saher bergumam. Gerakannya langsung
cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku
pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Saher. Kedua
tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.,, Terus, Sayang…,
teruuusss…!”desahku.
“Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Saher
“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.
“Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”
“Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”
“Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Saher
“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.
“Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”
“Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”
Namaku Diana, tinggi 160
sentimeter, berat 56 kilogram, lingkar pinggang 65 sentimeter. Secara
keseluruhan, sosokku kencang, garis tubuhku tampak bila mengenakan pakaian yang
ketat terutama pakaian senam. Aku adalah Ibu dari dua anak berusia 44 tahun dan
bekerja sebagai seorang guru disebuah SLTA di kota S,, Kata orang tahi lalat di
daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku mirip Minati Atmanegara
yang tetap kencang di usia yang semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya,
tetapi aku memiliki payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan
dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat dengan olahraga yang
teratur,, Kira-kira 6 tahun yang lalu saat usiaku masih 38 tahun salah seorang
sehabatku menitipkan anaknya yang ingin kuliah di tempatku, karena ia teman
baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku menyetujuinya. Nama pemuda itu
Saher, kulitnya kuning langsat dengan tinggi 173 cm. Badannya kurus kekar
karena Saher seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Saher ini pernah menjadi
muridku saat aku masih menjadi guru SMA.
Saher sangat sopan dan tahu
diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau mengantar
kedua anakku jika ingin bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu
dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama. Aku
juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga
penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat
yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Saher memperlihatkan sikap yang
wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku,,
Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah S-2
keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku
bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan sex-ku yang masih menggebu-gebu. Walau
usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku,
paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku
jalankan, sehingga hasrat tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan
kepergiannya otomatis aku harus menahan diri.
Awalnya biasa saja, tapi
setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi
uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam
telah menunjukkan angka 9. Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam
di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya.
Setelah makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar
suara pintu dIbuka dari kamar Saher,, “Bu Asmi..?” Suaranya berbisik, aku diam
saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba
aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku,
ternyata Saher sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju
menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku
sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku
menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus berpura-pura tertidur.
Bu Asmi..?” Suara Saher
terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak
atau tidak., Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap
semua sampai keleher,, Lalu kurasakan Saher
mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tetap tenang agar
pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku,
karena tanganku masuk ke dalam bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi,
wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu
kalau aku pura-pura tertidur kuatur napas selembut mungkin, Lalu kurasakan
tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan,
aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian
aku merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna
hitam, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati
elusannya, lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan
seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama
merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap
diam sampai saatnya tiba.
Sekarang
tangan Saher sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama
kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku.
Aku ingin merintih nikmat tapi nanti amalah membuatnya takut, jadi kurasakan
remasannya dalam diam. Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku,
kulirik pelan, kulihat Saher mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia
menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan
isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua
sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku
disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat
sekali.
Tangan
kanan Saher mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba
vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum.
Yang jelas jari-jari Saher menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu
kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku. Jantungku berdetak keras
sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Saher mencoba
memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah
nikmat sekali. Aku harus mengakhiri Saherwaraku, aku sudah tak tahan lagi,
kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.
“Saher!! Ngapain kamu?” Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Saher
menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Saher mecium mulutku secepat kilat,
aku berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Saher makin
keras menekan pundakku, malah sekarang pemuda itu menindih tubuhku, aku
kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot. Kurasakan
mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku
pura-pura menolak,, Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini,
maafkan saya Bu… ” Saher melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan
meminta. “Kamu kan bisa denagan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah
tua,” Ujarku lembut.“Tapi saya sudah tergila-gila dengan Bu Asmi.. Saat SMA
saya sering mengintip BH yang Ibu gunakan… Saya akan memuaskan Ibu
sepuas-puasnya,” jawab Saher.
“Ah kamu… Ya sudah
terserah kamu sajalah” Aku pura-pura
menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah
olehnya, Lalu Saher melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan
lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin
membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku. Di dalam kamar
mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku, kupandangi badanku di cermin.
Benarkah pemuda seperti Saher terangsang melihat tubuhku ini? Perduli amat yang
penting aku ingin merasakan bagaimana sich bercinta dengan remaja yang masih
panas.
Keluar dari kamar mandi,
Saher persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak
berpenutup sehelai benangpun, Body Ibu bagus banget.. ” dia memuji sembari
mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya
di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi,
kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas
dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung
lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu, “Ibu hebat…,” desisnya.Apanya yang hebat..?”
Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Saher yang panjang seleher.
“Badan Ibu enggak banyak
berubah dibandingkan saya SMA dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku.
Nikmat sekali, “Itu karena Ibu teratur
olahraga” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas
kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di
pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. DIbukanya sendiri baju kaosnya,
sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama
bugil, Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Saher minta gantian, dia ingin
mengerjai vaginaku, “Masukin aja yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu
San!” Cegahku sambil menciumnya.Saher tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya
?” godanya.“Kamu juga sudah enggak kuatkan sebenarnya San,” Balasku sambil
mencubit perutnya yang berotot.
Saher tersenyum lalu
menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di
atas ranjang. Ternyata Saher pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin
tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin
berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang
kemaluan Saher yang besar,, Berbeda dengan suamiku, Saher
nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan
terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga
menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan
pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak,, Saher menyelipkan tangan kirinya
ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Saher,
lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk,
telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap
vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang
vaginaku yang basah merekah, “Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak ‘bercinta’
sama Ibu…,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau,
pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi
apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Saher, hingga terasa tangan
kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.
Mataku terpejam rapat,
seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Saher semakin memburu, sementara
ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan
meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku
semakin tinggi. Lalu…, terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang
vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya…!!! Sejenak
aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir
kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Saher memasuki liang
vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa, “Oohh…,” sesaat kemudian aku mulai
bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Saher
mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak
terkendali.
“Saann, penismu
enaaak…!!!,” kataku setengah menjerit, Saher tidak menjawab, melainkan terus
memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar.
Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu
seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar, “Oohh…, toloongg..,
gustii…!!!” Saher malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku
semakin erotis.“Aahh, penismu…, oohh, aarrghh…, penismuu…, oohh…!!!” Saher
terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang
luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping,
nampaknya Saher sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada
vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.
“Ibu mau keluar! Ibu mau
keluaaar!!” aku menjerit-jerit, “Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget
‘bercinta’ sama Ibu!” Saher menyodok-nyodok semakin kencang. Prediksi Bola“Sodok
terus, Saann!!!… Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!, “Teruuss…, arrgghh…, sshh…, ohh…,
sodok terus penismuuu…!” “Oh, ah, uuugghhh… ”“Enaaak…, penis kamu enak, penis
kamu sedap, yahhh, teruuusss…”
Pada detik-detik terakhir,
tangan kananku meraih pantat Saher, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha
kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut
kencang sekali. Aku orgasme, Sesaat aku
seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan.
Mungkin sudah ada lima tahun aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Saher
mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur
nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata
dia belum mencapai orgasme,, Kuturuti permintaan Saher. Dengan agak lunglai
akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Saher
mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap
menancap dalam vaginaku.
Lalu perlahan terasa dia
mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan
gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai
permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi,, Aku menikmati gerakan maju-mundur
penis Saher dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak
berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke
belakang. Saher segera menunduk, dikecupnya pipiku.“San.. Kamu hebat banget..
Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar,” kataku terus terang.“Emangnya Ibu suka
kalau aku cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku, Aku tersenyum,
kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Saher mengerti, diciumnya bibirku. Lalu
dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan
lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan, Saher
melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat
dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku.
Aku mulai mengerang-erang lagi, “Oorrgghh…, aahh…, ennaak…, penismu enak
bangeett… Ssann!!”
Saher tidak bersuara,
melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku
menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan
Saher pun kali ini segera akan mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya
dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali
kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Saher. Pemuda itu mulai
mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme, Tiba-tiba Saher
menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat.
Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Saher langsung
menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk
mengangkang. Saher memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya
yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.
“Aarrgghhh…!!!” aku
menjerit, “Aku hampir keluar!” Saher bergumam. Gerakannya langsung cepat dan
kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja,
menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Saher. Kedua tanganku
mencengkeram sprei kuat-kuat.“Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.“Ooohhh, enak
sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Saher, “Ibu juga, Ibu juga, vagina
Ibu keenakaan…!” Balasku,, “Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak
bangeet… ” “Ibu juga mau keluar lagi,
tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!” “Ah, oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak
tahan, aku mau keluaaar…!, “Yaahh
teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann…, aku mau keluar, aku
mau keluar, vaginaku keenakan, aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…,
teruss…, aarrgghh…, ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!”
Tubuhku mengejang sesaat
sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang,
tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Saher menekan
kuat-kuat.
menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku, “Oohhh…!!!”
dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani
di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme
dalam waktu persis bersamaan seperti itu,, Lalu tubuh kami sama-sama melunglai,
tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Saher memelukku mesra sekali.
Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas,, “Enak banget,” bisik Saher
beberapa saat kemudian, “Hmmm…” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan
Saher bergerak-gerak di dalam vaginaku,, “Vagina Ibu enak banget, bisa
nyedot-nyedot gitu…” “Apalagi penis kamu…, gede, keras, dalemmm…”
Saher bergerak menciumi
aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium
ketiakku. Aku mengikik kegelian. Saher menjilati keringat yang membasahi
ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur
menjilati buah dadaku.
Saher lalu menetek seperti bayi.
Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki
rambut Saher karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak
lagi. Saher mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata, “Aku bisa enggak puas-puas
‘bercinta’ sama Ibu… Ibu juga suka kan?, Aku tersenyum saja, dan itu sudah
cukup bagi Saher sebagai jawaban. Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi.
Setelah break sejenak di sore hari malamnya Saher kembali meminta jatah dariku.
Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa
kali aku mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar
lunglai, lemas tak bertenaga, Hampir tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap
pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang
mengira aku
sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sehari
semalam dengan bekas muridku yang perkasa, Kira-kira 6 tahun yang lalu saat
usiaku masih 38 tahun salah seorang sehabatku menitipkan anaknya yang ingin
kuliah di tempatku, karena ia teman baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya
aku menyetujuinya. Nama pemuda itu Saher, kulitnya kuning langsat dengan tinggi
173 cm. Badannya kurus kekar karena Saher seorang atlit karate di tempatnya. Oh
ya, Saher ini pernah menjadi muridku saat aku masih menjadi guru SMA.
Saher sangat sopan dan
tahu diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau
mengantar kedua anakku jika ingin bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah
menyatu dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama.
Aku juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga
penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat
yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Saher memperlihatkan sikap yang
wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis
tubuhku, Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah
S-2 keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku
bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan sex-ku yang masih menggebu-gebu. Walau
usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku,
paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku
jalankan, sehingga hasrat tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan
kepergiannya otomatis aku harus menahan diri.
Awalnya biasa saja, tapi
setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi
uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam
telah menunjukkan angka 9. Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam
di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya.
Setelah makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar
suara pintu dIbuka dari kamar Saher, Kudengar suara langkahnya mendekatiku, “Bu
Asmi..?” Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat.
Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba aku tercekat ketika merasakan sesuatu
di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Saher sudah berdiri di
samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya
memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur
yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak
karuan, aku terus berpura-pura tertidur.
“Bu Asmi..?” Suara Saher
terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak
atau tidak, Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap
semua sampai keleher, Lalu kurasakan Saher mengelus bibirku, jantungku seperti
melompat, aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi
tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam bantal
otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali dengan
wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura tertidur kuatur napas
selembut mungkin., Lalu kurasakan tangannya
menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin
tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian aku
merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam,
mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya,
lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada
sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan
sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap diam sampai
saatnya tiba.
Sekarang tangan Saher sedang
berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan
dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat
tapi nanti amalah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam.
Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat
Saher mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat puting
susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus
bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh
air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan
kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali, Tangan kanan Saher
mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yang
masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas
jari-jari Saher menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan
tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku. Jantungku berdetak keras sekali,
kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Saher mencoba memasuki lubang
vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku
harus mengakhiri Saherwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil
menyentakkan tubuhku.
“Saher!! Ngapain kamu?” Aku
berusaha bangun duduk, tapi tangan Saher menekan pundakku dengan keras.
Tiba-tiba Saher mecium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak dengan
mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Saher makin keras menekan pundakku, malah
sekarang pemuda itu menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya
yang besar dan kekar berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku,
lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak, “Bu.., maafkan
saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya Bu… ” Saher melepaskan
ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta, “Kamu kan bisa denagan
teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua,” Ujarku lembut, “Tapi saya
sudah tergila-gila dengan Bu Asmi.. Saat SMA saya sering mengintip BH yang Ibu
gunakan… Saya akan memuaskan Ibu sepuas-puasnya,” jawab Saher, “Ah kamu… Ya
sudah terserah kamu sajalah” Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal
tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya.
Lalu Saher melumat bibirku
dan pelan-pelan aku meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas
pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di
dalam kamar tidurku. Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di
tubuhku, kupandangi badanku di cermin. Benarkah pemuda seperti Saher terangsang
melihat tubuhku ini? Perduli amat yang penting aku ingin merasakan bagaimana
sich bercinta dengan remaja yang masih panas, Keluar dari kamar mandi, Saher
persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak
berpenutup sehelai benangpun.
“Body Ibu bagus banget.. ”
dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi.
Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur
tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang
payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah
digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot
dengan sangat bernafsu, “Ibu hebat…,” desisnya, “Apanya yang hebat..?” Tanyaku
sambil mangacak-
acak rambut Saher yang panjang seleher.
“Badan Ibu enggak banyak
berubah dibandingkan saya SMA dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku.
Nikmat sekali, “Itu karena Ibu teratur olahraga” jawabku sembari meremas
tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya.
Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki
mengangkang. DIbukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut meraih
batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil, Agak lama aku mencumbu
kemaluannya, Saher minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku, “Masukin aja
yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu San!” Cegahku sambil menciumnya, Saher
tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya ?” godanya, “Kamu juga sudah enggak
kuatkan sebenarnya San,” Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot, Saher
tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali,
berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Saher pintar sekali bercumbu.
Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku
semakin berdenyut-denyut, lendirku
kian membanjir, tidak sabar menanti
terobosan batang kemaluan Saher yang besar.
Berbeda dengan suamiku,
Saher nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya,
melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku
hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke
bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku
menggelegak-gelegak, Saher menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh
kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Saher, lalu diremas-remasnya
buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali
pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang.
Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah
merekah, “Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak ‘bercinta’ sama Ibu…,” dia
berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya
pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan
saja apapun yang dilakukan Saher, hingga terasa tangan kanannya bergerak
mengangkat sebelah pahaku.
Mataku terpejam rapat,
seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Saher semakin memburu, sementara
ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan
meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku
semakin tinggi. Lalu…, terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang
vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya…!!! Sejenak
aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir
kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Saher memasuki liang
vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.
“Oohh…,” sesaat kemudian
aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal,
sementara Saher mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai
merintih-rintih tak terkendali, “Saann, penismu enaaak…!!!,” kataku setengah
menjerit.
Saher tidak menjawab,
melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan
cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang
penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke
dasar, “Oohh…, toloongg.., gustii…!!!” Saher
malah semakin bersemangat
mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.
“Aahh, penismu…, oohh,
aarrghh…, penismuu…, oohh…!!!” Saher terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat
sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun
kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Saher sama sekali tidak
kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali
terasa akan meledak. “Ibu mau keluar! Ibu mau keluaaar!!” aku menjerit-jerit, “Yah,
yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget ‘bercinta’ sama Ibu!” Saher menyodok-nyodok
semakin kencang. Prediksi Bola “Sodok terus, Saann!!!… Yah, ooohhh, yahh,
ugghh!!!” “Teruuss…, arrgghh…, sshh…, ohh…, sodok terus penismuuu…!” “Oh, ah,
uuugghhh… ” “Enaaak…, penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss…” Pada
detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Saher, kuremas bongkahan
pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa
vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!
Sesaat aku seperti
melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin
sudah ada lima tahun aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Saher
mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur
nafas.
sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata
dia belum mencapai orgasme, Kuturuti permintaan Saher. Dengan agak lunglai
akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Saher
mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap
menancap dalam vaginaku.
Lalu perlahan terasa dia
mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan
gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai
permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi, Aku menikmati
gerakan maju-mundur penis Saher dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali
nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat
kepalaku, menoleh ke belakang. Saher segera menunduk, dikecupnya pipiku, “San..
Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar,” kataku terus
terang, “Emangnya Ibu suka kalau aku cepet keluar?” jawabnya lembut di
telingaku, Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Saher mengerti,
diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui
bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri
dan ke kanan.
Saher melenguh. Diremasnya
kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang
kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai
mengerang-erang lagi, “Oorrgghh…, aahh…, ennaak…, penismu enak bangeett…
Ssann!!” Saher tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku
sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat
naik semakin tinggi. Kurasakan Saher pun kali ini segera akan mencapai klimaks.
Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat.
Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan
Saher. Pemuda itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.
Tiba-tiba Saher menyuruhku
berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu
kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Saher langsung
menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk
mengangkang. Saher memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya
yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.
“Aarrgghhh…!!!” aku menjerit. “Aku
hampir keluar!” Saher bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak
bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati
gecakan-gecakan keras batang kemaluan Saher. Kedua tanganku mencengkeram sprei
kuat-kuat.“Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku, “Ooohhh, enak sekali…, aku
keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Saher, “Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu
keenakaan…!” Balasku, “Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet…
” “Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!” “Ah,
oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaaar…!” “Yaahh
teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann…, aku mau keluar, aku
mau keluar, vaginaku keenakan, aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…,
teruss…, aarrgghh…, ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!”
Tubuhku mengejang sesaat
sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang,
tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Saher menekan
kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku, “Oohhh…!!!”
dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani
di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme
dalam waktu persis bersamaan seperti itu.
Lalu tubuh kami sama-sama
melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Saher memelukku mesra
sekali. Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas. “Enak banget,” bisik Saher
beberapa saat kemudian, “Hmmm…” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan
Saher bergerak-gerak di dalam vaginaku, Baca Juga > Cerita Sex Rekan
Bisnisku Memilik Anak Gadis Bahenol“Vagina Ibu enak banget, bisa nyedot-nyedot
gitu…”“Apalagi penis kamu…, gede, keras, dalemmm…” Saher bergerak menciumi aku
lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium
ketiakku. Aku mengikik kegelian. Saher menjilati keringat yang membasahi
ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur
menjilati buah dadaku.
Saher lalu menetek seperti
bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil.
Kujambaki rambut Saher karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai
menyentak-nyentak lagi. Saher mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis,
lalu berkata, “Aku bisa enggak puas-puas ‘bercinta’ sama Ibu… Ibu juga suka
kan?” Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Saher sebagai jawaban.
Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari
malamnya Saher kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde
tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku mencapai orgasme. Yang
jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga, Hampir
tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya
aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru
sedang happy, sehabis bersetubuh sehari semalam dengan bekas muridku yang
perkasa.
LINE : pastijp
WA : +62 822-7443-9249
BBM : PastiJP
Twitter : @pastijptogel1
Instagram : @pastijptogel999
Facebook : https://www.facebook.com/groups/pastitogel/
LIVECHAT : https://lc.chat/now/9887780/
LINK ALTERNATIF : www.pasti118.com
LINK ALTERNATIF : www.pasti228.com
LINK ALTERNATIF : bit.ly/pastijp88
LINK ALTERNATIF : bit.ly/pastijp99
LINK ALTERNATIF : http://pastijp123.com/WAP/index.php (HP)
?? Minimal deposit / withdraw 10.000 & melayani deposit via :
? Bank ( bca , bni , bri , mandiri , cimb )
? Pulsa ( telkomsel & xl )
? Gopay
? E-cash
? Ovo



Comments
Post a Comment